Pernah mendengar syair lagu Ebiet G. Ade “..mungkin alam mulai enggan bersahabat dg kita..”. Sepintas mungkin kita berpikir apakah mungkin alam mempunyai pikiran, sehingga alam mempunyai rasa BOSAN. Akan tetapi jika kita baca kembali dalam Al-Qur-an dijelaskan bahwa seluruh alam ini senantiasa berzikir kepada Alloh SWT. Jika berpijak dari keterangan tersebut maka sangat dimungkinkan bagi gunung, laut, hutan dan tanah, untuk merasa bosan kepada manusia. Yang terus menerus merusaknya.

Suatu bukti lain yang patut kita renungkan adalah adanya perubahan bentuk dan struktur alam. Mungkin saja kan, ternyata selama ini kita tidak menyadari bahwa lingkungan hidup di sekitar kita, yang kita anggap tidak mempunyai RASA, ternyata adalah makhluk Tuhan yang sensitif.

Lihat saja munculnya penyakit baru, bukankah sebenarnya itu adalah hasil evolusi dari penyakit-penyakit yang sudah ada sebelumnya. Munculnya spesies baru, dan hilangnya beberapa spesies langka adalah suatu fenomena yang patut kita cermati sebagai sebuah PEMIKIRAN ALAM.

Yang menarik dari ilmu evolusi ini adalah prediksi akan hilangnya spesies manusia Albino. Menurut beberapa literature yang pernah saya baca, apabila seorang Albino melakukan asimilasi dengan non Albino, maka Albino tersebut akan hilang. Salah satu campuran yang sekarang sedang ngetop adalah Barack Obama. Bayangkan jika semua Albino melakukan asimilasi dg non Albino, maka jumlah Albino akan hilang dimuka bumi ini.

Gagalnya Hitler dalam melindungi bangsa Arya, bangsa yang Uber Alles itu akhirnya jumlahnya makin hari makin menurun. Beberapa negara di Eropa sangat khawatir dengan kondisi ini. Bahkan ada beberapa negara yg memberikan insentif bagi keluarga Albino yg mempunyai banyak anak.

Kembali pada persoalan “alam yang mulai bosan”, adanya kejenuhan dalam hierarki monopoli kekuasaan kaum Albino ternyata tidak hanya dirasakan oleh kelompok Non-Albino. Kelompok Albino juga merasakan adanya ketidakpercayaan dalam diri mereka tentang keberadaan dan status mereka dalam pergaulan antar ras.

Dalam hal ini mereka telah mencapai puncak peradabannya. Apakah mungkin pencapaian puncak beradaban berarti kemunduran?

Pertanyaan itu setidaknya akan mampu menjawab fenomena kehancuran ekonomi, dan fenomena anti rasial dan antiteis dalam masyarakat dunia belakangan ini.

Semua akan mencapai puncaknya, dan apabila telah sampai puncaknya, maka tunggulah saat turunya. Masih ingat kan? Bahwa Bumi dan seluruh planet di bumi ini berputar pada porosnya. Bahkan bumi dan planet lain bersama-sama berputar mengelilingi Matahari. Lalu ada satelit kecil yang selalu mengelilingi Bumi, kita mnegenalnya dg sebutan Bulan.

Semua pergerakan ini adalah sebuah rutinitas, bayangkan kalau rutinitasini mengalami kebosanan !

Itulah mungkin yang disebutkan dengan “..apabila matahari terbit dari barat..”, mungkin saja kan? Kenapa tidak.