Ketika pagi datang menyapa jendela rumah, aku menyempatkan mataku mengamati sekumpulan mawar di halaman. Mereka tampak ceria menyambut sinar sang Mentari yang enggan bersinar terang, dan memilih bermanja ria di balik kemelut awan.
Seperti saat-saat yang dirindukan, saat yang paling dinanti ketika hujan turun adalah beberapa kehangatan yang mampu menjaga mata tetap terjaga dari bisik rayu dingin. “…mari tidur sayang…”, sambil mencari-cari selimut. Bahkan lebih sempurna lagi dengan kehadiran sepotong guling, menambah riuh kemalasan diatas pembaringan.
Teringat aku pada beberapa bait sajak penantian, yang mana disana aku pernah menitipkan beberapa kata dalam ikatan cinta. Kata-kata itu seperti barisan luka, masih saja ada bekasnya. Bahkan ketika aku berusaha menutupinya, ternyata bekas itu masih terlihat dengan jelas ketika aku mengingatnya.
Berbicara dengan naluri mungkin bukan sebuah solusi. Tapi apakah akal sehat juga mampu menjelaskan dengan riangnya? Pesimisme otak kanan berkata, “…ah, memang sudah takdirnya kok…”. Lho, takdir itu kan pilihan yang dapat kita pilah-pilih berdasarkan kemauan di hati kita. Sampai bait terakhir dituliskan, tetap saja tidak ditemukan jawaban yang gamblang.
Sejenak kemudian aku bermetafora dengan mawar-mawar yang bermain dibawah asuhan gerimis-gerimis nakal. Sepertinya mawar-mawar itu sudah merindukan hujan-hujan itu dengan sangat. Sekumpulan neutron mencoba membuka kembali ingatan tentang fakta-fakta. Mencairkan cerita demi cerita, menggerakkan syaraf-syaraf kebahagiaan yang mulai muncul dalam senyum kecil.
Andai saja, hatiku seperti mawar itu, berkembang disaat ingin menunjukkan keindahan. Tak peduli, meskipun setelah itu hujan harus menghilangkan sari-sari yang telah disiapkannya untuk para kumbang. Kehangatan sentuhan sang kumbang pada akhirnya adalah sebuah kegagalan waktu saja. Karena waktu berbunga adalah saat yang paling dinanti, bukan hanya oleh penghisap madu. Saat berbunga adalah yang paling dinanti oleh mawar, setelah sekian lama menjadi tunas kuncup.
Di lain waktu, masih ada kesempatan untuk berbunga lagi.
Dan mungkin, ketika besok adalah masa berbunga, hujan akan menghapuskan semua mimpi kebersamaan. Tapi berbunga adalah waktu terindah untuk menjadi kekaguman bagi banyak mata yang merindukan keindahan lain selain kehidupannya sendiri.
Senyumku semakin lebar, saat menyadari mawar-mawar itu tetap berbunga dengan warna terbaiknya. Bahkan disaat orang-orang mulai enggan mendekati, ketakutan yang menghinggapi pikiran manusia adalah hujan itu air, menyebabkan basah. Padahal manusia tak dapat hidup tanpa air, lalu kenapa takut hujan? Berbuat dosakah dengan air? Atau berbuat dosakah pada hal-hal yang menyebabkan hujan?
Senyum sepertinya harus menemukan kenikmatan, saat menempelkan bibirku ke bibir gelas. Seruput teh manis hangat, membuyarkan semua lamunan dengan kesimpulan akhir yang dipenuhi tanda tanya.

No comments yet
Comments feed for this article